Contoh Tinjauan Pustaka
1. Fenomena Pekerja Anak
Di tengah krisis moneter yang berkepanjangan ini, diskursus pekerja anak kembali menjadi topik yang ramai di bicarakan banyak kalangan. Kondisi ini semakin mencuat, setelah di temukan beberapa anak jalanan yang berprofesi sebagai pekerja. Selain di anggap sebagai masalah ketenaga sosial, pekerja anak juga di anggap sebagai masalah ketenaga kerjaan. Maraknya industrialisasi di beberapa negara berkembang akhir dekade ini, menyebabkan semakin banyaknya variasi masalah yang muncul dan di hadapi dalam aspek ketenagakerjaan, termasuk pekerja anak.
Dewasa, ini pekerja anak atau anak-anak yang terpaksa bekerja, merupakan fenomena global paradoks dari pembangunan dan industrialisasi, di perparah adanya krisis moneter yang melanda Asia. Kenyataannya, pekerja anak tidak hanya di dominasi oleh Negara berkembang, seperti Indonesia, Thailand, Bangladesh, dan India, juga di negara maju seperti AS, Belanda, dan inggris.
Pekerja anak adalah anak yang berusia 15 tahun dan melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi secara langsung (sektor informal), misalnya pedagang asongan, penyemir sepatu, pemulung, pengemis, kuli angkut barang, penjual buah, dan pelacur di bawah umur. Sedangkan jenis pekerjaan yang paling banyak di lakukanpekerjaan anak adalah pengamen, pemulung, tukang semir, tukang parker, pedangan asongan, tukang lap mobil, pengecer koran, bahkan ada yang mengeluti dunia jengger (penguasa wilayah operasi yang menerima setoran dari tiap pekerja anak di wilayahnya), dan pelacur di bawah umur.
Di antara semua jenis pekerjaan tersebut, ada menjadikannya sebagai profesi , dan ada yang sambilan saja. Bagi yang menggeluti perkerjaan sebagai profesi, mereka terjun secara total, dan hari -harinya di habiskan di jalanan. Sedangkan, bagi yang sambialan, mereka hanya beroperasi sore dan malam hari,karena pagi mereka belajar di sekolah. Namun demikian, garis batas antara profesi dan sambilan pada anak sangat lentur sifatnya karena hal ini sangat di pengaruhi kualitas kebutuhan yang menglingkupinya.
Pada satu sisi, mereka memasuki kegiatan ekonomi pada bidang-bidang yang menciptakan secara kebetulan (causal sector ), seperti tukang lap mobil. Akan tetapi, pada kondisi terdesak, mereka memasuki kegiatan ekonomi (outcash sector ) yang illegal dengan penghasilan marginal untuk kebutuhan sesaat seperti pelacurandi bawah umur.
2. Problematika Pekerja Anak
Fenomena pekerja anak di Indonesia semula lebih berkaitan dengan tradisi atau budaya membantu orang tua. Sebagian orang tua beranggapan bahwa memberi perkerjaan kepada anak-anak merupakan upaya proses belajar, belajar menghargai kerja dan tanggung jawab. Selain dapat melatih dan memperkenalkan anak kepada dunia kerja, mereka juga berharap dapat membantu mengurangi beban keluarga.
Namun demikian, sejalan dengan perkembangan waktu, fenomena anak berkerja banyak berkaitan erat dengan alas an ekonomi keluarga (masalah kemiskinan) dan kesempatan memperoleh pendidikan. Pendapat orang tua yang sedikit tidak mampu menutupi kebutuhan hidup keluarga sehingga memaksa mereka ikut bekerja. Di pihak lain, biaya pendidikan di Indonesia relative tinggi telah ikut memperkecil kesempatan mereka untuk mendapatkan pendidikan.
Persoalan munculnya pekerja anak sebagai sebuah ekses, sering di kesampingkan oleh para pengambil kebijakan di Negara berkembang. Pekerja anak hanya di pandang sebagai penyebab kemacetan lalu lintas, kriminalitas, dan kondisi kumuh perkotaan. Padahal dalam kenyataannya, kehadiran pekerja anak tidak berdiri sendiri dan bukan serta merta muncul tanpa satu sebab tertentu. Kehadirannya, kalau di telusuri, tidak bias tidak harus berpulang pada model pembangunan yang di jalankan.
Model pembangunan yang bertumpuh pada industri padat modal dan terkonsentrasi di perkotaan, menjadikan urbanisasi penduduk tanpa keterampilan dan pendidikan yang memadai dari desa hijrah ke kotamerupakan konsekuensi awal yang harus di tanggung. Konsekuensi selanjutnya adalah menjamurnya kaum kumuh dan miskin di perkotaan. Mereka inilah yang menjadi cikal bakal hadirnya pekerjaan anak di kemudian hari.
Dalam konteks keindonesiaan misalnya, kehadirannya di kaitkan dengan sebab akibat (hubungan kausalitasnya), tentunya berpulang pada strategi pembangunan yang di jalankan orde baru. Strategi pembangunan yang bertumpu pada industri padat modal dan terkosentrasi di perkotaan, menjadikan perpindahan penduduk tanpa keterampilan dan pendidikan yang memadai dari desa ke kota untuk memasuki pasar buruh murah tidak dapat di kendalikan. Urbanisasi yang melahirkan kaum miskin dan kere inilah, yang menyebabkan menjamurnya pekerja anak atau anak jalanan di perkotaan.
Terlepas dari asal-usul mereka pekerja anak ternyata cukup berguna dalam menggerakkan sektor informal perkotaan dan bagian buruh murah tanpa resiko. Artinya para pengusaha lebih suka memperkerjakan mereka karena bias di gaji rendah dan tidak rewel seperti orang dewasa. Kondisi ini terus berlangsung, walaupun UU No. 1/1955 tentang berlakunya UU tenaga kerja No. 4/1979 tentang kesejahteraan anak juga melarang kegiatan memperkerjakan anak.
Namun, demikian harus di sadari bahwa,problematika pekerja anak tidak hanya bertumpu pada masalah sektor ekonomi saja. Hubungan keluarga yang rapuh maupun masalah pribadi yang terditeksi oleh orang tua merupakan masalah lain yang di alami oleh anak-anak. Keinginan untuk berprilaku bebas dari norma orang tua dan keluarga, saat anak berusia antara 12-14 tahun adalah faktor lain yang bisa menyebabkan keterlibatan anak dalam aktivitas ekonomi jalanan.
Daftar Pustaka
Zuriah, Nurul. 2006. Metodelogi Penelitan Sosial dan Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara.
Mahsun. 2007. Metodelogi penelitian bahasa, Jakarta : grawindo persada.
Anggoro, M Toha, dkk. 2008. Metode penelitan, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar